Universitas Muhammadiyah Metro Gandeng Rumah Cendikia, Tingkatkan Profesionalisme Bank Sampah Desa Rejoagung

Lampung Timur - Dalam upaya mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang lebih profesional, Universitas Muhammadiyah Metro mengadakan pelatihan intensif pengelolaan dan administrasi bank sampah di Rumah Cendikia, Desa Rejoagung, Lampung Timur, pada Jumat (22/11/2025).
Kegiatan yang dibiayai oleh Program Studi S1 Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini diikuti oleh 25 peserta yang merupakan pengurus dan anggota aktif Bank Sampah Rumah Cendikia. Selama satu hari penuh, para peserta mendapat pembekalan komprehensif mulai dari konsep dasar bank sampah hingga praktik langsung pencatatan transaksi dan pembukuan keuangan.
Dari Manual ke Profesional
"Selama ini kami masih mencatat transaksi menggunakan buku tulis biasa. Sistem pembukuan keuangan juga belum terstandar," ungkap salah satu pengurus bank sampah, menggambarkan kondisi sebelum pelatihan.
Ketua Tim Pengabdi, Ardiansyah Japlani, S.E., MBA, menekankan pentingnya sistem administrasi yang tertib bagi keberlanjutan bank sampah. "Banyak bank sampah yang gagal berkembang bukan karena kurangnya partisipasi masyarakat, tetapi karena sistem administrasi yang buruk. Ketidakteraturan pencatatan bisa menimbulkan ketidakpercayaan nasabah," jelasnya.
Data membuktikan keberhasilan metode pelatihan yang diterapkan. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta yang signifikan, yaitu 34% - dari rata-rata 51% menjadi 85%. Bahkan untuk aspek pencatatan transaksi dan pembukuan keuangan, peningkatannya mencapai 37%.
Praktik Langsung Jadi Kunci
Berbeda dengan pelatihan konvensional yang hanya ceramah, kegiatan ini mengedepankan metode partisipatif. Peserta dibagi dalam 5 kelompok dan langsung mempraktikkan pencatatan transaksi, mengisi formulir nasabah, hingga menyusun laporan keuangan sederhana.
Dr. Ir. Eva Rolia, S.T., M.T., M.Kn., salah satu narasumber, menyampaikan materi tentang konsep dan mekanisme operasional bank sampah modern. Sementara Nurris Septa Pratama, S.Pd, M.M menjelaskan detail sistem administrasi yang terstandar.
"Peserta sangat antusias. Mereka banyak bertanya tentang cara mengatasi nasabah yang tidak memilah sampah dengan benar, strategi meningkatkan partisipasi masyarakat, hingga mekanisme penentuan harga sampah yang adil," ungkap Eva Rolia.
Potensi Replikasi
Model pelatihan dan sistem administrasi yang dikembangkan dinilai dapat direplikasi untuk bank sampah lain di Lampung Timur. Pemerintah Desa Rejoagung juga diharapkan memberikan dukungan kebijakan berupa peraturan desa tentang pemilahan sampah dari sumber.
Indonesia menghasilkan sekitar 65 juta ton sampah per tahun dengan timbulan rata-rata 0,7 kilogram per kapita per hari. Kehadiran bank sampah berbasis masyarakat seperti di Desa Rejoagung menjadi solusi konkret dalam mengatasi permasalahan sampah, sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat.
Dengan pengelolaan yang profesional, transparan, dan akuntabel, bank sampah tidak hanya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi bagi warga. Sebuah langkah kecil dengan dampak besar untuk lingkungan yang lebih baik.